10 Cara Menumbuhkan Cinta dalam Keluarga

Keluarga adalah sarana untuk menumbuhkan cinta kasih. keluarga yang kering dari perasaan cinta antaranggotanya, tidak akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bahkan mengancam eksistensi keluarga tersebut. Jangan sampai anggota keluarga hanya sekedar menjalankan hak dan kewajiban tanpa menghadirkan perasaan kasih sayang di dalamnya.

pada awal pembentukan keluarga, sebuah keluarga masih mengecap manisnya pernikahan. Aral atau rintangan belum banyak ditemui dalam perjalanan. Rasa cinta dan sayang masih tumbuh subur dan mudah untuk dihadirkan.

Ibarat sebuah kapal, saat awal berlayar, saat sauh baru saja dinaikkan, nahkoda dan awak kapal berbahagia. Mereka perlahan meninggalkan dermaga dan pantai. Mereka begitu bahagia, membayangkan hal-hal indah yang akan mereka temui di lautan nanti.

namun, saat pantai sudah tertinggal jauh di belakang, dermaga tak terlihat lagi, dan hanya ada lautan sejauh mata memandang, riak dan badai mulai menghapiri. Saat ituah euforia menurun, kejenuhan mulai datang, ketakutan menyelusup hadir. Saat itulah rasa cinta dan kasih sayang yang pada awal pernikahan muncul, mulai terancam hilang.

Yang harus dipahami adalah perasaan cinta bisa lahir murni sebagai pemberian Allah SWT. Sifatnya tidak terduga, tak bisa ditolak, datang begitu saja tanpa perlu ada penjelasan rasional yang mengiringinya. Rasa cinta ini tidak bisa dibantah , sebanyak apa pun alasan yang kita ungkapkan.

Namun, rasa cinta juga bisa diusahakan dan direkayasa. memaksimalkan ikhtiar, mencoba segala hal yang mungkin mampu mengembalikan rasa cinta itu dengan tidak lupa mengetuk pintu Allha SWT, mengiba kepada-Nya agar menganugrahi kita rasa cinta.

" Keluarga adalah sarana untuk menumbuhkan cinta kasih "

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadirkan rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga, di antaranya :

1. Mengingat kembali ikatan suci yang sedang dijalankan, keutamaanya, pahala yang menanti, dan menghindari ikatan tandingan dengan pihak lain apa pun bentuknya.
menikah tidak hanya tentang ikatan antara laki-laki dan perempuan. Menikah adalah perjanjian suci di hadapan Allah SWT. Merupakan kewajiban kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk berusaha mempertahankan kelangsungan ikatan itu.

Bisa jadi saat kejenuhan melanda, cinta dan kasih mulai luntur, kita kembali mempertanyakanya kekuatan hubugnan itu. Bahkan mungkin mencari celah untuk membentuk ikatan baru dengan pihak lain. hal ini bukanlah solusi, justru akan memperkeruh keadaan dan bukanlah solusi, justru akan memperkeruh keadaan dan membahayakan institusi keluarga.

2. Hindari mengkritik kekurangan pasangan secara langsung, baik kekurangan dalam kepribadiannya maupun fisik.
Saat menikah, kita akan dengan mudah menemukan kekurangan-kekurangan pasangan kita. Hal-hal yang tidak kita lihat sebelum menikah, tiba-tiba terlihat setelah menikah. Terkadang kekurangan itu membuat kita bertanya, "Kenapa begini?" lalu mulai timbul penyesalan. Dia yang dulu kita anggap sempurna, ternyata sama saja dengan yang lainnya, mempunyai kekurangan dan sifat-sifat yang kurang baik.

Seiring waktu, terjadi perubahan fisik pada pasangan kita. Dia yang tadinya cantik atau tampan, lambat laun muncul tanda-tanda bertambahnya usia. Kulit yang tidak semulus dulu, fisik yang tidak sekuat dan seideal dulu. Beban kewajiban dan kelelahan baik fisik maupun jiwa, juga membawa perubahan pada fisik dan piskis.

Penyesalan itu berbuah keinginan untuk mengubah sifat pasangan. Lalu mulailah kita menyampaikan kritik agar pasangan mengubah sifat-sifat yang ada di diri mereka. Jika kritik itu disampaikan dengan baik, tidak menjadi masalah. Namun, akan lain jika kritik itu disampaikan secara langsung dengan kata-kata yang menyakitkan.

3. Memuji Pasangan dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.
Seperti kita ingin mengkritik pasangan saat menemukan kekurangannya, pujilah dia saat kita mendapati kelebihannya. jangan pelit untuk memuji pasangan, Tapi jangan terlalu mengumbar pujian hingga pasangan tersanjung, jemawa, dan lupa untuk memperbaiki diri. Pujilah dia jika memang layak dipuji. Hargai kerja kerasnya dan ucapkan terimakasih atas apa yang telah pasangan kita usahakan demi keluarga.

4. Tidak mencela berlebihan saat pasangan lalai melaksanakan kewajibannya.
Manusia tidak luput dari sifat lupa. Begitu pula pasangan kita, ada kalanya lalai dalam melaksanakan kewajibannya. Lalai disini bukan karena dia menyepelekan kewajiban, namun karena kepenatan, kesibukan atau hal lainya yang membuatnya lupa akan kewajibannya sementara.

Saat pasangan kita lupa, ingatkanlah dia dengan cara yang baik. Mencelanya bukanlah solusi. Hal ini malah akan menimbulkan konflik lain yang lebih pelik. Biarkan pasangan kita rehat sejenak, maklumi kesibukannya, lalu kita ingatkan pada waktu yang tepat tanpa menuntut berlebihan.

5. Tidak melukai hati dengan kata-kata meskipun sedang marah.
Orang yang menjalani pernikahan dan membentuk keluarga adalah manusia biasa yang mempunyai sifat-sifat dasar manusia, salah satunya kemarahan. Namun yang harus diingat, marah adalah salah satu senjata syaitan. Hindari tuduhan-tuduhan ketika menyapaikan permasalahan. Hindari membicarakan aibnya, terlebih dalam keadaan marah. jangan sampai kemarahan kita kepada pasangan dijadikan senjata syaitan untuk memporakporandakan kehidupan keluarga kita.

Rasullulah saw. bersabda :
"Orang yang paling kuat di antara kalian adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah dan orang yang paling santun di antara kalian adalah orang yang memaafkan pada saat mampu melakukan pembalasaan. " (HR. Baihaqi)

Hadists di atas meminta kita untuk mengendalikan hawa nafsu saat marah, karena sering kali kita tidak bisa menahan diri saat marah. Meski tidak sampai melukai namun kata-kata yang kasar, tuduhan, dan celaan juga dapat menyakiti hati pasangan. Bahkan sakit hati karena kata-kata yang terlontar bisa lebih dalam daripada kekerasaan fisik.

6. Meluangkan diri untuk mengobrol dan mendengarkan pasangan berbicara, serta memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan masalah yang dihadapi bersama.
Cari waktu yang tepat untuk menyampaikan keluhan, harapan, masalah dan solusi. Sesibuk apa pun kita dan pasangan selalu luangkan waktu untuk bicara bersama. Tidak harus ada masalah serius baru mencari waktu untuk bicara. Meski hanya sebentar dan membicarakan hal-hal ringan yang remeh-temeh, hal ini akan mendekatkan hubungan antaranggota keluarga.

7. Saling memberi hadiah
Biasakan untuk memberi hadiah kepada anggota keluarga. Tak perlu menunggu prestasi besar atau momen khusus. Peristiwa kecil pun bisa dijadikan ajang untuk memberikan hadiah.

Hadiah yang diberikan pun tidak perlu mahal dan mewah disesuaikan dengan keuangan yang kita miliki dan kebutuhan anggota keluarga. Saling memberi hadiah akan membuat anggota keluarga merasa diperhatikan dan dihargai, sehingga akhirnya menumbuhkan sifat kasih dan sayang antaranggota keluarga.

8. Tidak membicarakan orang lain di hadapan pasangan dan membandingkan pasangan dengan orang lain
Berkeluarga bukanlah kompetisi. Setiap keluarga mempunyai ciri khas dan keunikan masing-masing. Berhenti membandingkan keluarga kita dan/atau pasangan kita dengan orang lain.

Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. keluarga orang lain terlihat lebih bahagia, pasangan orang lain terlihat lebih sempurna, anak-anak mereka terlihat saleh dan pintar.

Namun, selalu melihat orang lain akan menutup pandangan kita pada kelebihan keluarga kita sendiri. lalu perlahan kita menyesal dan mulai membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, pasangan kita dengan pasangan orang lain, anak-anak kita dengan anak-anak oang lain.

Sesungguhnya keluarga yang kita anggap sempurna pasti punya kekurangan juga. Tidak ada manusia yang sempurna. Bersyukur dengan apa yang Allah SWT karuniakan dan berusaha melakukan yang terbaik itu jauh  lebih mulia daripada sibuk melihat keberuntungan orang lain.

9. Meminta maaf saat melakukan kesalahan dan memaafkan anggota keluarga.
Tidak malu meminta maaf saat melakukan kesalahan, tidak gengsi memaafkan saat pasangan kita bersalah, dan berusaha memahami pasangan jika melakukan kesalahan adalah cara untuk menumbuhkan cinta kasih. 

Ada banyak faktor yang mempengaruhi psikologi manusia. Hormon, keadaan fisik, suasana hati bisa mempengaruhi keadaan psikis seseorang. Memperhatikan dan memahami hal ini akan melahirkan pemakluman dan pemaafan saat pasangan atau anggota keluarga melakukan kesalahan.

10.Saling menyemangati untuk berdoa; membaca Al-Qur'an, menadaburi, dan menghafalkannya; berzikir dan mempelajari agama.
Allah SWT yang menghadirkan perasaan kasih sayang serta cinta ke dalam hati. Karena itu, kedekatan kita dengan Allah berperan besar untuk menumbuhkan rasa tersebut.

Jagalah kecintaan kita kepada Allah agar Ia mengaruniakan kecintaan pula kepada keluarga kita. jika anggota keluarga mengedepankan rasa cinta kepada Allah, maka mereka pun akan saling mencintai satu sama lain karena Allah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "10 Cara Menumbuhkan Cinta dalam Keluarga"

Posting Komentar