Kisah Hijrah Hidayah Akibat Perjodohan

Kisah Hijrah Hidayah Akibat Perjodohan

Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatu...

Bagaimana kabar sahabat hijarah semua?

Tentu semua orang pernah mengalami masa lalu yang kurang baik. Dan baiklah disini saya akan mulai menceritakan kisah nyata hidup seorang wanita yang menurut saya sangat luar biasa. kisah hidup yang membuat perubahan yang luar biasa terhadap hidupnya. Dan semoga ini bisa memberikan inspirasi bagi kita.

Dia adalah seorang wanita yang bernama Amelia Debora, usianya kurang lebih 20 tahun. Amel terlahir dikeluarga yang sederhana, Amel hanya dibesarkan oleh kakek dan nenek-nya, dan sebenarnya ia masih mempunyai seorang ayah namun tidak dengan ibu sehingga ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak kecil. Semua kebutuhannya dipenuhi oleh kakek dan nenek-nya termasuk biaya sekolahnya pun kakek dan neneknya yang membiayai hingga Amel pun lulus sekolah menengah atas (SMA).

Amel adalah seorang wanita yang pendiam, tapi diamnya sangat menyakitkan, selain itu Amel juga seorang wanita yang memiliki sifat keras kepala. Amel tidak pernah marah dengan apapun yang kakek dan nenek-nya perintahkan, karena ia sadar bahwa karena jasa kakek dan neneknya ia bisa hidup dan menyelsaikan pendidikannya.

Namun dibalik sifat pendiamnya tersebut, ia sering melakukan kesalahan yang mungkin kakek dan neneknya tidak mengetahui sama sekali, kesalahan yang mungkin saat ia sesali. Bahkan larangan berpacaran oleh kakek dan neneknya pun ia abaikan, walaupun ia bukan terlahir dari keluarga yang agamis tapi setidaknya kakek dan neneknya melakukan hal tersebut untuk kebaikan Amel sendiri.
Bahkan pernah Amel marah kepada kakek dan nenek-nya yang melarangnya untuk pergi ke acara temannya,dan bahkan pernah ia mendiamkan kakek dan nenek-nya karena mereka tidak menuruti keinginan Amel.

Bahkan ketika Amel mempunyai seorang kekasih yang mungkin ia sangat mencintai dan menyayanginya sehingga kakek dan nenek-nya tidak setuju, bukan karena apa tapi karena kakek dan nenek-nya takut bahwa laki-laki itu bukan laki-laki baik. Dan kakek dan nenek-nya menyuruh Amel untuk memutuskan laki-laki tersebut.

Sampai akhirnya pada tahun 2014, kakek dan nenek serta ayah-nya berniat untuk menjodohkan-nya dengan pria yang belum pernah Amel kenal. Hari berganti hari, hingga suatu malam kakek dan nenek-nya mengatakan: “Putuskan laki-laki itu, kamu harus terima dengan perjodohan ini.”

Sontak saat itu juga hatinya terasa hancur, Amel pun merasa tidak ada guna-nya lagi ia ada di tengah-tengah keluarga ini, rasa benci pun mulai timbul pada diri Amel. Amel yang dulunya selalu menuruti perintah kakekdan nenek-nya kini ia berubah 180 derajat, ia mudah tersinggung, sulit mengontrol emosi nya. Amel pun semakin hari semakin di paksa dan di desak agar ia mau menerima perjodohan itu.

2 bulan berlalu hingga tiba pengumuman kelulusan sekolah menengah atas (SMA). Alahmdulllilah ia pun lulus dengan nilai yang baik. Namun saat itu juga ayah, kakek dan nenek-nya semakin kuat untuk menjodohkan nya dengan pria pilihan keluarganya. Ayah, Kakek dan nenek-nya pun sudah merencanakan hari pertunangan-nya. Tapi, Amel dengan tegas menolak pertunangan itu, dan ayahnya pun berkata : Jika Amel tidak mau menerima perjodohan dan pertunangan ini, berarti ia bukan anak-nya lagi.”

Sungguh hal ini membuatku semakin bingung dan membuat hatinya hancur begitu saja, betapa Amel merasa bahwa ia adalah seorang robot yang harus mau mengikuti segala khendak ayah, kakek dan nenek-nya. Amel merasa semua masa depan yang ia impikan kini harus ia kubur dalam-dalam, dimana ia berharap saat itu ia masih bebas seperti teman sebayanya, mencari pengalaman dan bekerja namun ia pun harus menerima perjodohan ini.

Hingga hari pertunangan itu pun tiba, dan kini cincin itu pun sudah berada di jari manis Amel. 
Tetesan air mata dan rasa sakit hati pun menemani hari-hari nya. Dan tidak lama setelah itu, keluarga nya mulai merencanakan hari pernikahan-nya tanpa sepengetahuan dan persetujuan-nya dengan laki-laki yang belum Amel kenal dengan baik.

Dan dengan mudahnya mereka mengatakan : “Apapun nanti yang keluarga calon mertua mu tanyakan, kamu harus bilang IYA.” Tanpa sepatah kata pun, Amel meninggalkan keluarga-nya dengan rasa marah, kecewa dan hancur.

Disaat itu ia pun merasa sedih, sebegitu tidak penting kah pendapatnya dalam keluarga nya ? keluarga yang benar-benar ia cintai namun semuanya telah menguburkan mimpi indah yang sudah ia idamkan.
Kadang Amel pun merasa bahwa semua ini tidak adil, apakah ini semua takdir yang harus ia jalani ? apakah ia kuat untuk menjalaninya ? apakah ia bisa membangun rumah tangga yang harmonis dengan laki-laki yang ia belum kenal seutuhnya dan laki-laki yang tidak ia cintai? Apakah bisa rumah tangga nya berjalan dengan harmonis tanpa ada kebohongan?

Hingga satu minggu lama nya, tidak ada kata yang keluar dari bibir nya, dan pada saat itu ada seorang nenek bertanya pada nya: “Ndok opo sampean sampun siap bojo.” (apa kamu sudah siap nikah) maaf autor belum fasih bahasa jawanya jadi agak blepotan..heheh

Dengan tegas Amel pun menjawab:” mboten mbah.” (tidak mbah). Dengan marah nya Ayah ku mengatakan kalok kamu tidak mau nikah tanggal itu juga, kamu bukan anak ku, kamu anak durhaka, dan kalo Ayah mu ini sudah tidak ada siapa yang akan menikah kan mu.

Mendengar kata-kata itu, tanpa disadar matanya pun meneteskan butiran bening, hancur semua nya. Tidak ada yang memikirkan perasaan nya lagi, mereka semua hanya ingin agar amel menuruti kemauan nya, dan tidak pernah memikirkan persaan Amel sendiri. Namun, dengan rasa berat, Amel pun menyetujui permintaan keluarga nya.

Tibalah hari pernikahan itu, hari yang menurut nya hari terburuk dan tersial dalam kehidupan nya. Andaikan saja semua ini tidak terjadi, Amel merasa tidak ada guna ia hidup lagi, namun ia tidak mau mengakhiri hidup nya dengan jalan seperti ini, walaupun ia tidak terlalu paham dengan agama, tapi ia tahu kalau bunuh diri adalah perbuatan yang Allah subhana wata’ala murkai. Mungkin ia harus menerima takdir ini, mungkin ini sudah jalan kehidupan nya.

Hingga kata “SAH” terdengar dari pak penghulu dan para saksi yang menyaksikan pernikahan nya. Sontak hal itu membuat air mata nya lolos begitu saja. Dan akhirnya Amel pun menjadi seorang istri dari laki-laki yang di jodohkan dengan nya. Tapi pernikahan itu, tidak terasa bahagia, yang ada hanya kebohongan dan sandiwara belaka yang Amel lakukan, karena Amel benar-benar tidak bisa mencintai laki-laki yang di jodohkan dengan nya.

Dan akhirnya pernikahan itu hanya berlangsung selama 3 bulan, Amel memutuskan bercerai dengan suami nya, mungkin ini juga karena sikap Amel yang belum mau membuka hati nya untuk laki-laki tersebut, mencoba untuk mencintai laki-laki tersebut. Tapi, jangan salah kan sepenuhnya kepada Amel karena ia pun tidak diberi waktu untuk saling mengenal, semua itu berlangsung karena rencana keluarga nya dan keluarga suami nya.

Singkat cerita semua persoalan perceraian nya dengan mantan suami nya telah selesai, mungkin ada sedikit masalah tapi autor tidak belum berani menceritakan..hheehe (takut melanggar hak asasi manusia)

Dan setelah semua selesai Amel pun memutuskan untuk mencari pengalaman dan pekerjaan yang jauh dari kampung halaman nya. Ia berniat untuk memulai semua nya dari awal. Hingga ia pun diterima kerja di sebuah mini market, yang akhirnya ia bekerja. Dan ia merasa bahwa kini hidup nya sudah bahagia, ia jauh dari paksaan, dan tangis batin.

Namun, selama kurang lebih 7 bulan ia kerja, pernah pada suatu malam ia merenungkan nasib hidupnya, ia merenungkan masa depan nya. Ia mulai berpikir  dan ia mulai bertanya-tanya untuk apa dan siapa ia bekerja ?

Hingga suatu hari ia mendengar bahwa disana nenek nya mendo’akan Amel bersama ibu-ibu pengajian lainnya, dan pada saat itu juga ia mendengar kabar bahwa ayah nya sedang sakit. saat itu Amel benar-benar merasa tertampar dengan semua yang telah terjadi. Amel pun mulai merasa tersentuh hati nya, ia merasa rindu terhadap kakek dan nenek nya,ia ingin merasakan ada diantara keluarga nya lagi dan ia juga ingin merawat ayah nya saat itu juga. Namun, apa daya ini pilihan nya, pilihan yang ia anggap sebagai jalan yang bagus untuk membangun mimpi yang pernah dulu ia kubur.

Amel mencoba flash back dengan kesalahan apa saja yang pernah ia lakukan, sehingga ia pun sadar bahwa sudah banyak hati yang ia sakiti dengan sikap dan tingkah lakunya selama ini. Terbesit dalam hati Amel untukmeminta maaf atas semua kesalahan nya, ia meminta maaf kepada Ayah, Kakek, Nenek, bahkan mantan suami dan mertua nya.

Dan dengan ikhlasnya mereka berlapang dada untuk memaaf kan atas segala kesalahan ku. Tanpa terasa bulir bening kembali terjun bebas dari mata nya. Ia merasa bahwa ia adalah manusia yang paling jahat, karena ia telah menyakiti hati orang-orang yang baik. Tapi, apa mau dikata nasi telah menjadi bubur.

Amel pun berjanji pada Ayah nya bahwa ia akan berusaha merubah diri nya, menjadi wanita yang sholeha dan menjadi anak kebanggan ayah, yang kelak menuntun ayah ke surga. Karena Amel sadar bahwa tidak ada yang bisa diharapkan lagi selain dirinya. Dirinya lah yang akan membawa Ayah nya ke surga atau neraka.

Sejak saat itu, ia pun bertekad untuk meninggalkan masa kebodohannya (jahiliyah), ia berniat untuk memperbaiki diri di jalan Allah subhana wata’ala. Semakin hari semakin ia sadari dengan dosa yang telah ia lakukan. Dan Allah pun masih memberi kesempatan ia untuk bertaubat, mendapatkan hidayah yang luar biasa.

Dan beberapa bulan kemudian, ia mendegar keadaan ayah nya mulai membaik dan bersamaan dengan itu, gaji di tempat ia bekerja mulai naik. Semakin menyesal atas dosa yang telah ia lakukan, dan ia mulai menyadari bahwa Allah subhana wata’ala begitu baik kepada hamba nya. Karena dengan mudah nya Allah subhana wata’ala memberikan kebahagian yang luar biasa.

Saat ini Amel pun mulai menjalani kehidupan nya dengan kehati-hati an dalam bertindak, keikhlasan dan kesabaran. Ia berusaha untuk menghilangkan sifat keras kepala nya lagi, ia mulai mengontrol emosi nya tinggi. Bahkan rasa cinta nya kepada ikhwan ia mulai hilangkan sedikit-dikit, ia hanya mengharap kan cinta dan ridho Allah subhana wata’ala.

Shalat yang dulunya jarang Amel lakukan, kini untuk ditinggalkan rasa nya sudah tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang belum lengkap. Ada rasa takut ketika kewajiban tersebut tidak dijalan kan atau ia lalaikan, takut bahwa Allah subhana wata’ala akan marahkepada nya.

Amel berusaha melupakan masa lalu nya yang begitu pahit, ia berusaha bangkit dari jurang yng penuh dengan dusta dan kebohongan belaka. Ia berusaha bangkit walaupun kepingan masa lalu itu masih ada.

Pesan Amel kepada kita semua, terutama yang baca kisah ini bahwa dekat dengan rabb sang pencipta itu begitu indah, dan jangan pernah berharap kepada manusia, berharaplah hanya kepada Allah subhana wata’ala, karena Allah tidak akan membiarkan mu merasa kecewa dan putus asa.
Inilah akhir dari kisah Amel, semoga kisah ini memberikan kita inspirasi untuk semakin kuat dalam memperbaiki diri.

Pesan saya sebagai autor, Skenario yang Allah sudah buat kan untuk kita itu sangatlah indah, tinggal apakah kita kuat menjalankan skenario tersebut. Kita hanyalah sebagai pemeran dari semua drama kehidupan, jadi jangan pernah menyerah dengan semua hal yang terjadi, jangan pernah merasa bahwa Allah subhana wata’ala tidak adil, bahkan dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa Allah subhana wata’ala adalah hakim yang paling adil. Hal ini ada dalam Q.S. At-Tin : 8.

Dan mulai lah sekarang juga untuk memperbaiki diri karena Allah subhana wata’ala bukan karena siapapun ataupun juga karena trend (kids zaman now..hehee).

Dan akhirnya autor mohon maaf atas semua kesalahan dalam penulisan, disini autor masih dalam proses belajar. Dan bagi sahabat yang mau berbagi kisah tentang perjalanan hijrahnya silahkan dikirim, insya allah nanti akan kami upload di blog kami. Dan barangkali kisah hijrah kalian semua bisa memberikan inspirasi bagi yang lain untuk segera berhijrah. Bukan materi ataupun finansial yang kita dapatkan saat ini tapi nanti hadiah itu akan terbungkus rapi di akhirat.

Atau bagi kalian yang bisa merangkai kata ataupun menggambar kami akan sangat senang kalian mau berbagi bersama kami, mari kita capai ridhonya dengan jalan yang benar dan lurus, insya allah kita semua akan menjadi penghuni surganya... amin allahuma amin..

Yang mau berbagi silah kan kirim ke email di bawah ini.

lukitadellavida.33@gmail.com
semoga kisah ini bermanfaat bagi kita semua..
Wassalamua’alaikum waramatullahi wabarakatu...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Hijrah Hidayah Akibat Perjodohan"

Posting Komentar